Rabu, 01 Maret 2017

30 Detik


https://c1.staticflickr.com/3/2400/5713483082_e44df9b91b_b.jpg


Hujan hari ini terasa berbeda. Entah karena titik-titiknya yang bagiku lebih terasa halus, atau karenamu. Jika keduanya menjadi sebuah jawaban atas pertanyaanku ini, maka hal itu bukanlah menjadi suatu permasalahan, bukan? Entahlah, aku sendiri juga tak mengerti tentang apa yang sedang kupikirkan saat ini, intinya sore ini terasa berbeda.


Saat-saat ini adalah saat yang sudah kutunggu-tunggu selama beberapa hari ini. Kesibukan di kantor membuatku ingin segera terbebas dari penjara tugas-tugas yang mulai tidak berpihak kepadaku. Sore ini para pekerja mulai berhamburan ke luar penjara betonnya masing-masing. Rute yang kulalui adalah rute normal para pekerja di kompleks perkantoran ini, yaitu rute menuju kereta bawah tanah terdekat, bagiku. Semua orang akan keluar dan berjalan ke arah taman berbentuk angka delapan di pusat perkantoran ini, kemudian akan memasuki pintu kereta bawah tanah nomor enam. Itu ruteku, tapi tidak bagimu.

Aku jadi ingat, saat pertama kali bertemu dirimu. Saat itu juga sedang turun hujan, mungkin itulah alasan mengapa aku suka hujan. Saat di mana aku harus menunggu lampu penyebrangan menjadi hijau dan tetap hijau dalam waktu 30 detik. Kau sendiri juga tahu, bukan? Dalam waktu itu aku, dan kamu tentunya, harus melewati jalan, yang lebarnya dua kali lipat dari lebar jalan di depan rumahku ini. Berjalan di antara pekerja-pekerja lain bukan lah suatu hal yang mudah untuk melewati jalan ini. Terlebih, arus perjalanan pekerja yang terjadi dari dua arah, ke arah taman berbentuk angka delapan, dan arah sebaliknya yang entah itu menuju kemana dan mulai saat itu aku menamainya dengan “rute-mu”.

Lampu sudah berubah menjadi hijau. Angka 30 muncul di sberang jalan dan mulai berganti setiap detiknya. Di seberang, aku melihatmu. Dirimu, yang kukenal dari sensor bola mataku dan secara alami otakku mengatur bahwa dirimu akan muncul di waktu-waktu ini, di sore ini, jam ini, detik ini, dan probabilitas kemunculanmu akan lebih tinggi di saat hujan gerimis seperti ini. Saat inilah para pekerja mulai menyeberangi jalan dan aku harus memperhatikan langkahku. Di tangan kananku sudah terdapat payung yang siap melindungiku dari hujan sore itu. Tubuhku berjalan zig-zag untuk menghindari tumbukan dengan para pekerja dari arah yang berlawanan. Langkahku sangat ringan. Aku seperti menari-nari di antara lautan manusia ini. Secara alami payungku menyesuaikan agar tidak tersangkut dengan payung para pekerja lain. Aku menikmatinya. Merasakan tiap langkahku sepertia tetes air hujan yang jatuh pada sore itu, halus. Dan sampai detik itu lah kugerakkan tubuhku ke hadapanmu. Sengaja. Agar aku bertumbukan denganmu, sehingga aku bisa berhenti melihatmu, walau dalam waktu yang sesingkat ini. Aku puas. Aku tersenyum sembari menunduk kilat. Kau balas dengan senyummu. Setidaknya aku bisa melihat warna bola matamu.

Sudah beberapa hari sejak sore itu dan momen ini kembali terjadi. Aku sudah terbiasa dengan momen ini. Dan lampu penyebrangan sudah berubah menjadi hijau dengan angka 30-nya. Aku siap menyeberangi jalan ini. Di seberang, aku melihatmu, sendiri. Seperti biasa, kugerakkan tubuhku untuk menghindari tumbukan arus dari arah berlawanan. Ini lah momen yang kutunggu dalam beberapa hari ini. Semoga mencintaimu tidak lah harus sesakit ini. Semoga “iya” adalah jawabannya.

Dan ketika aku dan dirimu sudah bertemu di tengah jalan dan berhenti untuk saling tersenyum di bawah payung masing-masing, aku melanjutkan langkahku ke arah rute ku. Sedangkan dirimu melanjutkan langkah menuju rutemu. Aku tetap berharap “iya” adalah jawabannya dan berbalik mengikuti ruteku adalah sebuah jawaban “iya”, seperti yang sudah kujelaskan semalam. Detik pada lampu penyeberangan sudah menunjukkan angka lima, pertanda bahwa waktu menyeberang akan habis. Kuputar kepalaku ke belakang dan kulihat dirimu sudah berpayung dengan orang lain. Ternyata bukan diriku dan ternyata jawabannya adalah sebuah “tidak”. Sekali lagi, mencintaimu apakah harus sesakit ini.