Sabtu, 17 Desember 2016

Weekend Trip ke Sumatra: Part 2. Palembang




Cerita sebelunya bisa cek di sini

Weekend trip ke Sumatra: Part 1. Lampung

Minggu, 2 Oktober 2016

09.00

Setelah menempuh 13 jam lamanya dari Bandar Lampung ke Palembang via kereta, akhirnya sampai juga di Stasiun Kertapati, Palembang. Dari Stasiun kita langsung menuju Masjid Agung Palembang untuk bersih-bersih diri. Dari stasiun, kita menggunakan kopsaja untuk menuju masjid agung. Biayanya Rp 5000. Cari bus bertujuan Alang-Alang Lebar (AAL). Bus ini melewati Jembatan Ampera.

Kita turun di Masjid Agung Palembang. Masjid ini terletak persis di depan Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera). Kita bersih-bersih diri kemudian melanjutkan pemberhentian pertama kita, yaitu Mie Celor 26 Ilir H.M Syafei. Dari masjid agung kita tempuh dengan jalan kaki sampai ke suatu pasar dan di sana letak rumah makannya. Kita pesan Mie Celor untuk sarapan. Satu porsi Rp 25.000. Cukup mengenyangkan sarapan dengan Mie Celor ini.

Masjid Agung Palembang 

Mie Celor 

Selanjutnya kita menuju Monpera alias kita balik lagi menuju area masjid agung tadi. Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) mempunyai bangunan unik yang berisi suatu teks perjuangan. Di belakang Monpera ini terdapat Museum Sultan Mahmud Badarrudin II dengan tiket masuk sebesar Rp 5000.

Monumen Perjuangan Rakyat 

Itu bentuk bangunan ikonik nya 

Museum Sultan Mahmud Badarrudin II 

Tempat tidur raja 

Ada di uang berapaan hayo? 

11.00

Setelah selesai, kita lanjutkan menuju Jembatan Ampera. Jembatan ini terletak sangat dekat dengan museum. Hanya beberapa meter ssaja sudah terlihat Sungai Musi. Kita foto session di sini sebelum kemudian memutuskan untuk menyewa kapal menuju ke Pulau Kemaro. Kapal menuju Pulau kemaro disewakan sebesar Rp 200.000/kapal. Banyak sekali yang menawarkan di pinggir Sungai Musi. 

Jembatan Ampera saat siang! 

Look at the red! 

Perjalanan menuju Pulau Kemaro ditempuh selama 30 menit. Selama menempuh perjalanan ini, ada pemandangan kaal-kapal besar dari Pusri sebelum akhirnya kita melihat suatu pulau kecil yang di tengahnya terdapat pagoda. Pulau Kemaro ini mempunyai sejarah unik tentang ceritanya yang mengenai sebuah cinta antara dua insan :)

Di atas kapal ketek 

Pusri 

Pulau Kemaro 


Ini nih pagodanya 

Tidak ada tiket masuk di Pulau Kemaro, alias gratis. Bangunannya cukup ikonik bernuansa china. Bangunan utamanya adalah pagoda yang menjulang tinggi di tengahnya.

15.00

Kita kembali ke Jembatan Ampera dengan rencana akan ke Taman Burung Oppi. Akan tetapi, ternyata kita salah naik angkot. Pemberhentian terakhirnya di suatu terminal yang entah itu di mana, Setelah mengecek di gmaps, ternyata terminal tersebut sangat dekat dengan Masjid Cheng Ho. Hanya jalan kaki saja melewati perumahan elite hingga kita menemui sebuah masjid bernuansa cina. Katanya, masjid ini merupakan sumbangan warga Tionghoa kepada masyarakat muslim di sana sebagai bentuk toleransi antara kedua umat ini. Ya tahu sendiri kan di Palembang banyak warga keturunan Tionghoa.

Masjid Cheng Ho 

Kita menunggu hingga ashar untuk selanjutknya menuju Gelora Sriwijaya. Cukup dengan jalan kaki kita sudah sampai. Akan tetapi, kita tidak tahu pintu masuk stadion ini ada dimana. Sampai salah jalan akhirnya muter lagi. Saat itu sedang ada pertandingan liga kopi antara Sriwijaya FC dengan Bhayangkara FC sehingga area ini lumayan ramai akn supporter. Di sini kita cari makan. Lapar daritadi belum makan.

Di tempat makan kita bertemu seorang ibu-ibu yang tidak bias keluar stadion dikarenakan mobil dia terjebak di antara parker-parkir motor yang tidak karuan. Ternyata ibu ini suaminya adalah polisi dan ibu ini pun juga seorang polwan -_-. Para anggota polisi ini diwajibkan untuk mendukung Bhayangkara FC yang sedang bertanding.


Stadion Gelora Sriwijaya 

Setelah jam 17.00 kami memutuskan pamit dari ibu tadi. Ibu tadi member pesan ke kita “Jalan-jalan lah kau selagi masi muda! Wahai para pemuda!” Hahaha.

Kita menunggu transmusi (semacam translampung atau transjkarta). Rutenya agak membingungkan. Kita ikuti saja kemana dia pergi. Ternyata dia melewati Masjid Agung Palembang. Kita turun di sana untuk selanjutnya mencari took pempek. Yang paling dekat adalah Pempek Vico di mana kita tempuh dengan jalan kaki.

Rencananya kita akan makan di tempat, akan tetapi cukup ramai sampai-sampai kita tidak dapat tempat. Tidak jadi makan di tempat, kita memutuskan untuk membeli oleh-oleh saja. Rp 120.000 untuk paket yang termurah. Berisi 30 pempek kecil kalau tidak salah.

18.00

Kembali menuju Masjid Agung Palembang untuk sholat dan selanjutnya menuju Jembatan Ampera. Jembatan Ampera di malam hari cukup bagus pemabndangannya. Terlebih lagi ketika dia berwarna merah. Ambil foto!


Love this picture! Bagus banget pas malam 

Belum cobain ini T.T semacam warung apung 

Jam sudah menunjukkan 19.30 kita memutuskan untuk memanggil taksi dan menuju bandara. Perjalanan ke bandara lumayan jauh ya. Argo taksi kita sampi Rp 100.000.

Itu tadi sedikt cerita weekend trip saya menuju Lampung dan Palembang. Cukup singkat akan tetapi objek yang kita dapatkan cukup memuaskan. Lampung mempunyai banyak wisata panta yang indah. Dalam waktu dekat provinsi ini saya kira akan ramai dikunjungi wisatawan lokal. Sayang sekali masih banyak scam alias orang-orang yang ngga jelas yang biasanya menipu atau mematok harga di luar standar. Apabila mereka lebih ramah, pasti saya yakin provinsi ini makin banyak diminati wisatawan. Untuk Palembang, kotanya sedang berkembang. Di sana sedang dibangun LRT untuk menyambut Asian Games 2018. Kota ini juga sudah menjadi tuan rumah untuk Sea Games beberapa waktu yang lalu. Saya yakin Palembang bisa menjadi kota yang bagus :)

Sampai saat saya menulis ini, saya masih terpikirkan untuk membeli pempek Palembang lagi haha karena pempek di sana enak rasanya. Beda dengan di sini.

Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya!

Rincian biaya

Lampung

Gojek kosan – Pulogadung : Rp 6.000
Bus Pulogadung – Merak : Rp 30.000
Kapal Merak – Bakauheni : Rp 13.000
Soto lampung : Rp 11.000
Bus Bakauheni – Bandar Lampung : Rp 30.000
Translampung : Rp 4.000
Makan siang : Rp 12.000
Angkot Sampoerna – Pantai Mutun : Rp 20.000
Kapal ke Pulau Tangkil : Rp 75.000
Makan : Rp 10.000
Ojek : Rp 15.000
Angkot 5x : Rp 20.000
Bakso Sony : Rp 11.000
Nasi goreng : Rp 12.000
Kereta Lampung – Palembang : Rp 125.000

Total : Rp 394.000

Palembang

Bus : Rp 5.000
Mie Celor : Rp 25.000
Tiket museum : Rp 5.000
Kapal : Rp 100.000
Kelapa : Rp 10.000
Angkot 2x : Rp 8.000
Makan : Rp 12.000
Transmusi : Rp 5.000
Pempek : Rp 120.000
Taksi : Rp 50.000
Pesawat pulang : Rp 370.000
Total : Rp 710.000

Total semuanya : Rp 1.104.000

Previous post:
Weekend trip ke Sumatra: Part 1. Lampung

Weekend Trip ke Sumatra: Part 1. Lampung



Hi!

Akhirnya saya menulis blog lagi haha. Jadi ceritanya notebook saya habis rusak, jadi saya memutuskan untuk vakum, terus ditambah memang malas menulis, jadi lah saya membiarkan blog saya teronggok berdebu.

Sebenarnya sudah banyak Sekali cerita yang pengen saya tulis. Satu-satu deh ya mumpung lagi niat. Kali ini, saya akan tulis pengalaman saya ke Pulau Sumatra!

Sebetulnya ini karena cuti saya udah habis, jadi saya harus cari alternatif liburan asyik tanpa harus mengambil jatah cuti. Jatuh lah di dua kota ini karena ternyata dua kota ini dapat ditempuh menggunakan kereta. So, this is my weekend trip!

Weekend trip ke Sumatra: Part 1. Lampung
Weekend Trip ke Sumatra: Part 2. Palembang

Itinerary

Jumat, 30 September 2016



20.00 – 00.00 : Perjalanan dari Pulogadung ke Merak

Sabtu, 1 Oktober 2016

00.00 – 03.00 : Menyeberang Selat Sunda
03.00 – 05.00 : Sampai Bakauheni, sholat
05.00 – 07.00 : Menara Siger
07.00 – 12.00 : Perjalanan menuju Bandar Lampung
12.00 – 14.00 : Perjalanan menuju Pantai Mutun
14.00 – 16.00 : Pulau Tangkil
16.00 – 17.00 : Bakso Haji Sony dan Vihara Thay Hin Bio
17.00 – 19.00 : Masjid Al-Furqon
19.00 – 20.00 : Perjalanan menuju Stasiun Tanjung Karang
20.00 - …        : Perjalanan menuju Palembang dengan kereta

Minggu, 2 Oktober 2016

…       – 09.00 : Sampai Stasiun Kertapati
09.00 – 10.00 : Mandi di Masjid Agung Palembang
10.00 – 11.00 : Makan Mie Celor 26 Ilir H.M Syafei
11.00 – 12.00 : Monpera dan Museum Sultan Mahmud Badarrudin II
12.00 – 13.00 : Jembatan Ampera
13.00 – 15.00 : Pulau Kemaro
15.00 – 16.00 : Masjid Cheng Ho
16.00 – 17.00 : Stadion Gelora Sriwijaya
17.00 – 18.00 : Pempek Vico
18.00 – 19.00 : Sholat di Masjid Agung Palembang
19.00 – 20.00 : Perjalanan ke Bandara
20.00 - …        : Pulang




Jumat, 30 September 2016

20.00

Jam 20.00 saya berangkat dari kosan, setelah sebelumnya saya memutuskan untuk ngsajar dulu haha (nyari uang saku). Naik gojek ke terminal Pulogadung hanya Rp 6000! Di depan terminal langsung ketemu temen saya. Eh terus kita lihat bus warna kuning dengan nama Bimasuci. Saya sih selow ssaja karena bus kita namanya Arjuna. Ternyata saudara-suadara! Bimasuci dan Arjuna itu sama saja haha. Sama-sama menuju merak. Lari-lari lah kita mengejar itu bus. Alhamdulillah ter-catch up!

00.00

Melintasi tol dalam kota, kita tidur saja lah. Bangun-bangun udah jam 00.00! Sampai di Terminal Merak yang gelap gulita. Ada tulisan “pelabuhan 100 meter”. Oke kita jalan saja dari terminal ke pelabuhan, deket kok :)

Dari beli tiket sampai boarding ke kapalnya itu lama juga, sejam broh. Kapalnya bagus :) Di dalam ada tivi yang sedang menayangkan film 5 cm. Saya mah tidur saja dan tiba-tiba sudah sampai.

                                                             
                                                                            Tiket kapal
                                             
                                                   Ruang dalam kapal. Itu TV nya kelihatan

                                                              
                                                                     Ada eskalatornya!

Sabtu, 1 Oktober 2016

04.00

Sampai di tanah Sumatra! Jam 04.00 kita sampai, seperti di blog-blog, di luar udah diserbu sama mbil-mobil penjemput. Siap-siap saja nolak-nolakin mereka karena saya mau ke Menara Siger terlebih dahulu, di mana menara ini terletak beberapa meter dari pelabuhan. Kita sholat dulu, kemudian mencari-cari informasi di internet cara menuju ke menara tersebut. Menaranya sih kelihatan dari pelabuhan, tapi jalannya harus melalui jalan bus dimana itu muter dan jauh.

Dari blog orang, ada yang bilang bahwa Menara Siger dapat ditempuh melalui jalan alternatif (lewat kebun pisang). Patokannya adalah dekat kantor polisi. Kita udah menuju ke sana, tapi ada tukang ojek nyamperin. Dia bilang “ngapain Mas? Gabisa lewat situ”. Dia nawarin ojek Rp 15.000 tapi kita nolak. Sampai dia nawarin Rp 5.000 kita tolak juga huahaha. Kita akhirnya menuruti gmaps saja lewat jalan bus di mana itu… lumayan…. jauh haha. Hitung-hitung jogging (?). Sekitar 20 menit kita sampai menara! Whoaaa masih gelap. Siap-siap untuk menyambut sunrise. Saya sih tidak tahu ya mataharinya itu dari arah mana. Ternyata dari arah pulau-pulau! Bagus banget Ya Allah :).

                                                               

                                                                          Maafin muka 

Sunrise :) 

Pagi-pagi udah loncat-loncat 

Pemandangan dari Menara Siger 


Setelah puas dengan sunrise, kita memutuskan untuk mencari makan. Di depan apintu masuk menara tadi terdapat warung soto. Kita coba sotonya ternyata agak beda ya.

Soto Lampung 

07.00

Kita beranjak dari Menara Siger untuk menuju Bandar Lampung. Dari sini ke Bandar Lampung dapat ditempuh menggunakan bus, akan tetapi saat kita menunggu bus, ada yang menawarkan mobil. Mana maksa lagi. Males banget. Tapi bus nya juga lama banget sampai membuat hopeless. Akan tetapi kita tetap menunggu. Setelah 1 jam menunggu, akhirnya datang juga busnya. Lumayan jauh ya dari pelabuhan ke Bandar Lampung, sekitar 100 km haha. Saya tidur saja di jalan.

Bus menuju Terminal Rajabasa 

Di dalam Terminal Rajabasa 

12.00

Sampai Terminal Rsajabasa! Kita harus naik angkot yang saya lupa nomornya, tapi angkotnya tidak ada. Kata petugas translampung, baru ada nanti. Terus saya diajak naik translampung saja. Saya iya-iya saja haha. By the way, harga 1x naik translampung adalah Rp 4.000. Di jalan kita tidak tahu apa-apa. Kemudian uniknya adalah kita tidak ditagih karcis! Baik banget ya ibunya.

Tapi, entah baik atau apa, ternyata saya udah sampai di tujuan terakhir dan saya tidak tahu ini dimana. Kata ibunya, kita kebablasan haha. Yee gimana ibunya -_-. Ibunya sudah berniat untuk membantu kita tapi lupa haha sampai kita kebablasan. Akhirnya kami diberi informasi cara menuju Pantai Mutun :)

Jadi kita harus naik translampung lagi ke Sampoerna. Kita turun di Sampoerna dan makan siang terlebih dahulu. Di area ini ada semacam angkutan yang akan mengantarkan kita ke Pantai Mutun. Saya tidak tahu harganya. Kata orang terminal, harganya sekitar 20 – 30 ribu. Lumayan lama juga nuggunya. Ada kali 1 jam. Akhirnya berangkat juga.

Angkot menuju Pantai Mutun. Panas banget di dalamnya! 

14.00

Sekitar setengah jam baru sampai Pantai Mutun. Ops! Belum sampai pantainya, masih area menuju pantai. Angkot kita bayar Rp 20.000 per orang. Tetot! Nanti akan saya certain kenapa kok tetot.

Dari pinggiran jalan tempat kita turun ini, masih beberapa kilometer lagi untuk mencapai Pantai Mutun. Sudah ada banyak ojek menawarkan, tapi maaf :) kita tidak naik ojek. Jalan! Sampai-sampai ojek-ojek tadi berkata “Dasar orang Jakarta!” :)))

Di gmpas tertera 31 menit jalan. Oke! Jalan dong kita, ternyata jalannya naik turun huahaha. Ngos-ngosan bro. Sampai di Pantai Mutun. Bagusss :) Langsung ditawari kapal untuk menuju Pulau Tangkil. Rp 150.000 per kapal, alias Rp 75.000 per orang. Deket banget pantainya, hanya ditempuh selama 10 menit sudah sampai Pulau Tangkil.

Pasirnya putih. Lautnya biru. Tapi itu hanya terjadi beberapa saat, karena habis itu gerimis -_- dan laut berubah menjadi coklat. Saya foto session dulu di sini haha terus nyeburrr tahu-tahu udah jam 16.30. Pulang!

Pulau Tangkil sebelum gerimis menyerang 

Lompat kegirangan. Awannya sudah mendung 

Hi boy! Anak kapal (?) 

Pulangnya kita curhat ke bapak kapalnya kita tadi ke sini naik angkot bayar Rp 20.000. Di sini lah maksud "tetot" sebelumnya. Kata bapaknya itu kemahalan. Paling Rp 5.000 – Rp 10.000. Terus dengan baiknya bapaknya mencarikan kita ojek. Awalnya minta Rp 20.000 untuk diantar ke tempat ada angkot. Terus ditawar dong sama bapaknya :) Dapet lah Rp 15.000 sudah sampai ke tempat angkot-angkot. Lumayan jauh loh, saya kira dianter ke tempat kita turun dari angkot tadi, tapi ternyata bukan. Ini diantar sampai semcam terminal kecil gitu dan di sana sudah ada 1 angkot menunggu.

17.00

Berhenti dulu di suatu masjid untuk sholat, terus kita balik ke Sampoerna. Dari sini kita akan ke Bakso Haji Sony yang terkenal di Lampung. Cabangnya ada banyak banget! Dari informasi warga, yang paling dekat bias ditempuh dengan angkot, yaitu Bakso Haji Sony VI. 1 Porsi bakso harganya Rp 11.000. Ya seperti bakso seperti biasanya, hanya ini tekstur baksonya kenyal sekali dan halus.

Bakso Haji Sony VI 


Ini baksonya! 


Dari Bakso Sony kita kembali ke Sampoerna. Dari sana tinggal berjalan untuk menuju Vihara Thai Hin Bio. Kita hanya foto-foto saja dari depan. Di area ini banyak sekali yang menjual oleh-oleh khas Lampung, akan tetapi kita tidak membelinya karena oleh-oleh akan kita beli saat di Palembang agar tidak ribet membawanya.

Vihara Thai Hin Bio 

18.00

Kemudian kita memutuskan untuk ke Masjid Al-Furqon untuk sholat. Maaf saya lupa banget angkot-angkotan di sini. Tinggal tanya saja ke angkotnya, lewat Masjid Al-Furqon atau tidak. Masjid ini masjid terbesar di Bandar Lampung. Ada di pusat kota Lampung. Dari magrib sampai isya kita di sini terus coba membungkus nasi goreng untuk nanti di kereta. Ke Stasiun Tanjung Karang bisa pakai angkot juga. Angkot disini sampai malam jadi tenang saja.

Masjid Al-Furqon 


Maafin muka 

20.00

Di Stasiun Tanjung Karang kita naik kereta bisnis Sriwijaya II seharga Rp 125.000. Perjalanan ditempuh selama 13 jam. Nantikan kisah selanjutnya di Palembang!

Weekend trip ke Sumatra: Part 1. Lampung
Weekend Trip ke Sumatra: Part 2. Palembang

Selasa, 12 Juli 2016

Solo Traveling ke Singapura dan Thailand: Part 3. Bangkok

Let's continue the journey, bagi yang belum baca postingan sebelumnya, bisa cek postingan sebelumnya di sini:

Solo Traveling ke Singapura dan Thailand: Part 1. Singapura

Solo Traveling ke Singapura dan Thailand: Part 2. Phuket

Saat ini ceritanya gw sudah sampai Bangkok dari perjalanan semalam (selama 12 jam lebih) menggunakan bus dari Phuket.


Hari 5. Bangkok: Keliling Candi-Candi

06.00
Gw bangun dan gw cek gmaps, ternyata jaraknya masih 3 jam lagi menuju Terminal Mochit. Pas masuk Bangkok macet juga. Jam 08.00 sampai Mochit. Gw isi pulsa dulu di sevel, karena paketan gw abis pas hari itu. Harga 1 hari paketan adalah 49 bath (20000), gw cari yang 2 hari paketan ternyata adanya malah 7 hari. Engga deh. Terus gw juga bingung cara ngisi pulsanya haha, secara hurufnya keriting semua. Gw minta tolong ke mbak-mbak sevelnya.


Pemandangan Kota Bangkok dari bus 

Suasana Terminal Mochit

Gw berencana ke Grand Palace, Wat Arun dan Wat Poo untuk hari ini. Gw tanya informasi, gimana cara menuju Grand Palace. Dia ngasih  semacam peta untuk menuju ke terminal yang isinya bus-bus local. Gw Tanya BTS paling deket, katanya 2 km. Woow. Gw menuju ke bis-bis loka, jaraknya deket dari Mochit. Gw Tanya infotmasi  lagi, diminta ke loket 3. Gw di loket 3, katanya diminta ke loket 157, pas di loket 157 diminta lagi ke loket 3 hahaha muter-muter sampai akhirnya gw baru nyadar gw tinggal naik bis nya aja. Bis line 3 ini dari Mochit bisa ke Khaosan Road dan Grand Palace. Gw naik bus, bayarnya 7 bath aja (3000) T.T. Murah banget. Perjalanan menuju Grand Palace jauh juga. Kira-kira hampir 1 jam gw baru sampai.

Petunjuk dari bagian informasi

Rute bus no.3


Interior dalam bus. Sepi ya....

10.00
Sampai di Grand Palace, foto-foto di depannya. Masuknya bayar 500 bath (200000). Karena mau hemat ya gw foto di depannya aja. Ngga nyiapin budget juga sih buat masuk sana haha. Terus tinggal jalan ke Wat Pho yang ada Budha tidurnya. Deket dari sini. Tapi karena cuacanya panas banget dan di sepanjang jalan banyak bangunan-bangunan bagus, jadinya lama juga nyampe Wat Pho.


















Kehausan, akhirnya beli minuman herbal dari daun-daunan ini





Masuk Wat Pho bayar 100 bath (20000). Rame juga di sini. Mau lihat Budha tidurnya harus ngantre dulu. Kalau mau masuk sepatunya harus dicopot, nanti udah disediain semacam karung untuk wadah sepatu kita.  Di sepanjang Budha tidur ada semacam kotak untuk nruh sumbangan.











13.00
Keluar Wat Pho gw menuju Wat Arun. Jalan dulu ke arah sungai Chao Phraya. Gw laper banget di sini karena belum makan dari pagi. Nyari makan di daerah Grand Palace aja isinya park pork park pork. Biasanya nyari makan di sevel tapi belum nemu sevel T.T Akhirnya beli sate-satean seafood. Beli cumi sama udang totalnya 80 bath (32000). Lumayan daripada laper. Untuk menuju Wat Arun, kita harus nyeberang dulu ke senelah. Kita harus naik transfet boat. Bayar 3 bath (1200). Nyampe sebelah langsung deh masuk Wat Arun. Wat Arunnya lagi renovasi, jadi candiinya ada besi-besinya. Tiket masuknya sebesar 50 bath (20000).

kelaperan. Nggak nemus sevel, alhamdulillah ketemu ini. Aneka seafood



Wat Arun lagi renov




Muka udah kucel



14.00
Selesai dari Wat Arun gw mau menuju ke tempat temen gw Mamet di BTS Phraram 9. Tapi karena gw janjiannya jam 17.00, walhasil gw nyoba naik kapal aja menuju stasiun yang paling deket sama BTS. Dari Wat Pho tadi gw nyebrang lagi, terus nunggu di bagian transportasi kapal. Tempat gw naik kapal adalah Tha Tien. Nunggu kapal, yang dating kapal dengan bendera orange. Gw  naik aja. Btw di sini ada kapal dengan berbagai bendera, ada yang gratis ada yang bayar. Ada yang berhenti di setiap staisun, ada yang berhenti di stasiun tertentu aja. Gw naik kapal seharga 15 bath (6000), menuju Central Pier. Karena rame banget, gw salah turun stasiun. Gw malah turun di oriental -_-. Walhasil gw lanjutin jalan kea rah Central Pier untuk menuju BTS terdekat. Selama gw jalan, gw lihat ada McD! Langsung ajagw mampir. Jam masih pukul 15.00, sekalian aja gw nunggu istirahat ngadhem, ngecas hape haha. Gw beli paket cheese burger seharga 110 bath (44000). Kenyang!


Rute kapal yang membingungkan, berdasar warna bendera

McD nya lagi sawadee karp

15.30
Gw jalan ke tempat Mamet, lewat BTS  Saphan Taksin (Silom Line). Dari sini gw harus menuju ke Sala Daeng untuk ganti ke Si Lom (MRT Line biru) untuk menuju ke Phra Ram 9. Harga BTS bervariasi tergantung stasiun tujuan, antara 24 sampai 42 bath (10000 – 16000). Btw di sini ada BTS ada MRT. Kalu BTS itu yang melayang di udara (skytrain), kalo MRT itu yang di bawah tanah. Kalau mau pindah dari BTS ke MRT harus bayar lagi. Nyampe Phra Rma 9, gw akhirnya ketemu Mamet dalam kondisi lebam-lebam di sekujur tubuh haha. Gw hina banget pokoknya. Sampai di kamarnya Mamet gw langsung bersih-bersih diri.












19.00
Jam malem gw udah dibooking sama Mamet haha. Ditratktir! Alhamdulillah. Kita menuju ke Esplanade, yang deket banget dari tempat tinggal dia. Kita mau ke 3D museum. Jadi ceritanya gini, si Mamet ini tau kalo 3D museum Cuma ada di beberapa Negara, dan di Thailand Cuma ada di Pattaya. Tapi beberapa waktu yang lalu di baru tahu kalo si 3D museum ini buka di Bangkok, dan itu deket banget samap dia tinggal. Dia belum ke sana dan ngajak gw supaya foto-fotonya bias bagus hahah, alias dia butuh fotografer buat motion. Okedeh.

Pas masuk esplanade ada mbak-mbak nawarin brosur, gw tolak aja karena emang gw ngga ngerti isinya apaan. Ternyata itu isinya diskonan buat masuk 3D museum T.T. Harga aslinya 600 bath (240000), diskonnya 50%. Gw kira itu per orang jadi  300 bath (120000). Ternyata tidak saudara-saudara! Kata mbak loketnya, one free and one discount 50%. Walhasil, Mamet cumin bayar 300 bath (120000) buat berdua.











Photo of the day


21.00
Menuju pasar malem di belakang Esplanade. I try sticky mango rice yang hitz itu. Di sini makanannya seru-seru banget. Kalo ada waktu lagi, gw mau ke sini lagi.












Sticky mango rice


Hari 6. Bangkok: Aku ingin pulang

08.00
Gw cuss dari tempat Mamet, bingung mau ke mana akhirnya gw ke Lumphini Park aja. Naik MRT di Phraram 9 ke Lumphini. Di jam-jam rush hour ini susah juga naik MRT. Sempet ke skip 3 kereta, akhirnya ada ibu-ibu yang nolong gw masuk kereta. Sebenernya dia ada di belakang antrean gw, tapi pas kereta dteng gw diem aja menyilakan dia masuk, eee terus dia melambaikan tangan supaya masuk aja ke kereta. Yah walau pun di Jakarta lebih pepes, tapi kalau di Jakarta gw udah tahu situasi dan kondisinya, tips and trick nya lah. Kalau di Thailand kan gw gatau harus ngedusel-dusel atau antre dengan teraturnya.
Turun di Lumphini, jalan dikit sampai Lumphini Park. Di sana gw foto-foto, baca buku terus tidur haha. Enak banget suasananya buat tidur.













10.00
Gw cusss ke Ctatuchack Weekend Market. Sebenernya si Mamet udah nyaranin aja supaya beli oleh-olehnya di MBK. Tapi yaa namanya anak ngeyel, gw cuss aja ke Chatuchack. Naik MRT dari Sukhumvit langsung cusss Chatuchak Park. Hrganya 42 bath (16000). Turun, jalan bentar nyampe deh ke Chatuchak. Dan ternyata saudara-saudara, bukannya jualan baju-baju atau gantungan kunci, malah yang ada jualan bunga-bunga. Yakali gw bawa oleh-oleh taneman. Gw masuk aja ke dalem berharap ada took yang buka. Udah muter-muter dan tersesat, akhirnya gw menyerah. Gw keluar dengan tangan hampa untuk menuju ke MBK. Cara menuju MBK adalah dari BTS Mo Chit gw menuju ke  Siam, terus ganti BTS ke National Stadium.







MBK ini sejenis ITC gitu sih. Cari oleh-oleh di antara lantai 5, 6 dan 7. Gw beli buah kering seharga 100 bath (40000) per bungkus, nori isi 12 sheet sehrga 80 bath (32000) per pcs yang akhirnya gw tawar jadi 70 bath (28000) per pcs, beli kaos harga 100 bath (40000) dan tempeln kulkas seharga 100 bath (40000) per 3 pcs. Cukup. Gw sholat di lantai 4 dan ketemu orang Indonesia di sana haha. Lalu makan di KFC, mumpung ketemu KFC, paket yang kentang ayam pepsi seharga 120 bath (48000).


15.00
Gw menyerah udah pengen pulang ke Indonesia haha. Pengen nasi padang! Akhirnya gw balik ke Suvharnabhumi Airport. Cara menuju ke sana adalah dari BTS National Stadium gw menuju ke Phraya Thai. Di sini ada petunjuk airport rail link. Harganya 45 bath (36000). Line airport link ini melewati beberapa stasiun, akhirnya berhenti di airport Suvarnabhumi. Di sana gw istirahat dulu sampai jam 17.00 baru check in. Jam 19.55 gw cussss Singapura




23.00
Nyampe Singapura jam 23.00, berkaca dari pengalaman sebelumnya yang diomelin di airport ketika nginep, gw langsung buru-buru keluar imigrasi. Sebelum landing, gw mengalami gejala sakit pada telinga. Padahal pas 2x flight pertama gw normal-normal aja. Pas ini sakit banget. Analisis gw, parameter yang beda itu Cuma penerbangannya. Awalnya pake jetstar, ini pakai Tiger. Gw piker ini Tiger ngga bener ini, tapi setelah gw baca-baca, penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah karena gw lagi batuk, jadi saluran pendenganran gw tertutup menyebabkan tekanan pada telinga terganggu. Pas sebelum landing juga samping gw ada cewe Thailand, cantik juga, pakai rok (?) haha padahal gw aja kedinginan. Dia nanya gw bias bahasa Thai engga, terus dia kaya ngasih sign gitu, gimana cara menuju ke suatu alamat (Gw masih inget dia nunjuk MBC Complex), gw jawab aja I’m sorry I don’t know. Wahahaha saying banget padahal harusnya percakapan bisa dilanjutkan.

Balik lagi ke Changi, gw langsung keluar imigrasi dan balik lagi untuk check in. Ternyata masih bias check in. Gw kiran counternya udah tutup karena terlalu malem haha. Langsung aja masuk dan tidur di bandara.

Hari ke-7 Indonesia: Nasi Padang I’m coming!

Jam 08.00 gw cussss Indonesia, sampai terminal 2 soetta gw langsung ke KFC. Laperrrr. Nunggu Damri dapet yang ke Rawamangun. Nyampai rawamangun jam 11.30. Gw langsung naik gojek ke dokter. Gw teler banget dan gw putuskan untuk tidak masuk kerja. Sebelum pulang ke kosan gw beli dulu nasi padang :p


Itu lah sedikit cerita solo travel gw ke Sg dan Thai sendirian. Banyak cerita yang didapat. Walau pun sendirian, itu sudah banyak memberikan pengalaman berharga bagi gw. Mungkin buat temen-temen yang mau solo travel dalam waktu singkat, bias ngikutin itinerary gw yang udah gw share sebelumnya.

Rincian biayanya gw share di bawah ini ya.

Hari 1. Jakarta
Gojek                    17000
Damri                    40000
Total                      57000

Hari 2. Singapura
MRT                    100000
Minum                   50000
Oleh-oleh            100000
Total                    250000

Hari 3. Phuket
Pulsa                    80000
Minum                  26000
Airport bus           16000
Guesthouse       100000
Motor                 100000
Bensin                 20000
Kelapa                 12000
Jajan di sevel      52000
Total                   406000

Hari 4. Phuket
Phiphi tour          640000
Sewa payung       30000
Bis ke Bangkok  240000
Total                   910000

Hari 5 dan 6. Bangkok
Toilet                       1200
Bis                          2800
Beli minum             8000
Sate seafood       32000
Kapal transfer        2400
Kelapa                 16000
Wat Pho               40000
Wat Arun              20000
Kapal                      6000
BTS                      50000
Oleh-oleh            300000
Total                    478400

Hari ke 7. Jakarta
Damri                    40000
KFC                      50000
Gojek                    12000
Total                    102000

Total pengeluaran selama 7 hari dari awal berangkat sampai pulang adalah Rp 2.203.400
Biaya dengan tiket pesawat PP adalah Rp 3.985.400
Total biaya all exclude oleh-oleh adalah Rp 3.435.400

Selamat ber solo travelling!

Semoga ada kesempatan lain untuk share cerita-cerita.